Upgrade Your Mindset and Goals for The Real Success

Rabu, 31 Desember 2014

Posted by Unknown on 00.48 | No comments



Bagaimanakah AKU di tahun 2017 ?,  Apa yang sesungguhnya Anda inginkan dalam kehidupan ini. Apakah Anda menginginkan pernikahan penuh kasih sayang, perhomatan anak-anak Anda?
Apakah Anda menginginkan banyak uang, mobil mewah, bisnis yang sukses, vila di Puncak? Ingin Naik haji dan mengjaikan orang yang anda cintai ( orang tua / keluarga) ?
Nah!, tidak ada salahnya menjalani tahun 2017 ini kita  membuat sebuah resolusi. Apa sebenarnya definisi resolusi? Resolusi adalah pernyataan tertulis, yang biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal yang akan kita lakukan. Semacam sebuah rencana yang ingin kita lakukan di tahun 2015

Mengubah Keyakinan Anda, itu Mengubah Harapan Anda Sukses


Wirausahawan milyuner, Richard M.Devos, mengatakan, “Satu -satunya hal yang menghalangi seseorang dari mendapatkan apa yang diinginkannya dalam kehidupan ini sering kali hanyalah kemauan untuk mencobanya serta iman untuk meyakini bahwa itu mungkin”.


Suatu kepercayaan bukanlah sekedar ide yang Anda punyai; itu adalah ide yang menguasai Anda. Suatu kepercayaan mempunyai kuasa yang besar, sebab mengubah harapan seseorang. Ketika Karen Ford mengubah cara berpikirnya dan membangun kepercayaan di atas landasan baru berupa pertumbuhan, ia mempunyai lebih dari sekedar pengharapan dan impian untuk mendorongnya maju. Ia harap meraih sasarannya sebab ia telah bekerja keras mengubah dirinya sebagai persiapan. Dan ia juga telah mempersiapkan orang - orangnya untuk itu. 


Mereka berharap sukses, dan mereka pun sukses. Kata - kata penulis Nelson Boswell sungguh benar: “ Langkah pertama sekaligus terpenting menuju sukses adalah keyakinan  terhadap harapan bahwa kita bisa sukses”. SPIRIT PERUBAHAN .. YAKINI ANDA SUKSES


 JIKA ANDA SEORANG MUSLIM, inilah RESOLUSI ANDA 


“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS  al-Hasyr [59]: 18-19)



Tak terasa, sekarang kita sudah masuk tahun 2015 dan kita meninggalkan tahun 2014 dengan banyak kenangan. Sebelum jauh berlalu, ada baiknya jika kita flashback (muhasabah) 11 bulan terakhir di tahun 2016 yang sudah berlalu. Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad saw, beliau berkata: “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT” (Imam Turmudzi). Dalam riwayat lain disebutkan dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata: “Hisablah (evaluasi) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab).”


Meski tahun baru Islam sudah lewat, tidak ada salahnya momen pergantian tahun ini kita lakukan evaluasi diri (muhasabah). Muhasabah atau evaluasi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Karena orang yang sukses akan selalu mengevaluasi dari apa yang telah dilakukannya. Selain itu, Rasulullah saw juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan.


Sementara kebalikan dari kesuksean, yakni kegagalan. Rasulullah saw menyebutkan dengan dua ciri mendasar Muslim yang gagal, yakni: Pertama, adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya. Membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing (rencana), tidak ada action (aksi/kerja) dari rencananya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Dan orang yang seperti ini sudah akan terukur kegagalannya.

Kedua, adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, “Berangan-angan terhadap Allah.” Maksud berangan-angan terhadap Allah SWT adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: “Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”



Urgensi Muhasabah

Imam Turmudzi meriwayatkan ungkapan Umar bin Khaththab ra dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.  
Pertama, Umar ra mengemukakan: “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.” Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar faham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah SWT.


Kedua, Maimun bin Mihran ra mengatakan: “Seorang hamba tidak diakatan bertaqwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisabnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya.” Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliau pun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketaqwaan. Seseorang tidak dikatakan bertaqwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertaqwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.


Ketiga, urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah SWT dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah SWT menjelaskan dalam al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS Maryam [19]: 95). Setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas segala amal perbuatan yang telah dilakukannya secara sendiri-sendiri. Dan seringkali manusia melupakan hal ini, sementara semakin hari semakin dekat antara dirinya dengan hisab tersebut. Allah SWT berfirman: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS al-Anbiya’ [21]: 1)



Membuat Resolusi di Tahun 2017

Seorang Muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi & planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang yang sukses adalah orang yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertaqwa adalah orang yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’


Ada beberapa aspek terkait resolusi Muslim di tahun 2017 agar kelak kita menjadi orang yang pandai, sukses, dan bertaqwa.


Pertama, kita perlu membuat resolusi terkait ibadah kita. Pertama kali sebagai Muslim yang harus kita lakukan adalah meningkatkan ibadah kita, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (QS al-Zariyât [51]: 56). 


Kedua, sebagai Muslim kita perlu membuat resolusi terkait pekerjaan dan perolehan rizqi. Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda: Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw bahwa beliau bersabda, “Tidak akan bergerak tapak kaki Ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya & kemana dibelanjakannya & ilmunya sejauh mana pengamalannya?” (HR Turmudzi)
.

Ketiga, kita perlu membuat resolusi terkait kehidupan sosial keislaman kita. Aspek kehidupan sosial ini merupakan hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya kehidupan sosial keislaman kita juga sangat penting. Sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw dalam haditsnya: “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR Muslim)

sumber : http://alrasikh.uii.ac.id

Menerima  TRAINING HYPNO UPGRADING - SPIRITUAL untuk organisasi anda ( pendidikan/non pendidikan dan perusahaan)
Mengembalikan Fitrah manusia yang BERTUHAN, BEKEJA KERAS, JUJUR, dan IKHLAS
 kontak person :

ERYANTO WhatsApps/SMS :( 0813-2778-0051)
e-mail : hypno.upgrading@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar

Search Our Site

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter