Bagaimanakah AKU di tahun 2017 ?, Apa yang sesungguhnya Anda inginkan dalam
kehidupan ini. Apakah Anda menginginkan pernikahan penuh kasih sayang,
perhomatan anak-anak Anda?
Apakah Anda menginginkan banyak uang, mobil mewah, bisnis yang sukses, vila di Puncak? Ingin Naik haji dan mengjaikan orang yang anda cintai ( orang tua / keluarga) ?
Apakah Anda menginginkan banyak uang, mobil mewah, bisnis yang sukses, vila di Puncak? Ingin Naik haji dan mengjaikan orang yang anda cintai ( orang tua / keluarga) ?
Nah!, tidak ada salahnya menjalani tahun
2017 ini kita membuat sebuah resolusi. Apa sebenarnya definisi
resolusi? Resolusi adalah pernyataan tertulis, yang biasanya berisi tuntutan
tentang suatu hal yang akan kita lakukan. Semacam sebuah rencana yang ingin
kita lakukan di tahun 2015
Mengubah Keyakinan Anda, itu Mengubah Harapan
Anda Sukses
Wirausahawan milyuner, Richard M.Devos, mengatakan, “Satu -satunya hal yang menghalangi
seseorang dari mendapatkan apa yang diinginkannya dalam kehidupan ini sering
kali hanyalah kemauan untuk mencobanya serta iman untuk meyakini bahwa itu
mungkin”.
Suatu kepercayaan bukanlah sekedar ide yang Anda punyai; itu
adalah ide yang menguasai Anda. Suatu kepercayaan mempunyai kuasa yang besar,
sebab mengubah harapan seseorang. Ketika Karen Ford mengubah cara berpikirnya dan
membangun kepercayaan di atas landasan baru berupa pertumbuhan, ia mempunyai
lebih dari sekedar pengharapan dan impian untuk mendorongnya maju. Ia harap
meraih sasarannya sebab ia telah bekerja keras mengubah dirinya sebagai
persiapan. Dan ia juga telah mempersiapkan orang - orangnya untuk itu.
Mereka berharap sukses, dan mereka pun sukses. Kata - kata
penulis Nelson Boswell sungguh benar: “ Langkah pertama sekaligus terpenting
menuju sukses adalah keyakinan terhadap
harapan bahwa kita bisa sukses”. SPIRIT PERUBAHAN .. YAKINI ANDA SUKSES
JIKA ANDA SEORANG MUSLIM, inilah RESOLUSI ANDA
“Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu
seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa
kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama
penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni
surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Hasyr [59]: 18-19)
Tak terasa, sekarang kita sudah masuk tahun 2015
dan kita meninggalkan tahun 2014 dengan banyak kenangan. Sebelum jauh berlalu,
ada baiknya jika kita flashback (muhasabah) 11 bulan terakhir
di tahun 2016 yang sudah berlalu. Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad
saw, beliau berkata: “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab
(mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian.
Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya
serta berangan-angan terhadap Allah SWT” (Imam Turmudzi). Dalam riwayat
lain disebutkan dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata: “Hisablah
(evaluasi) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah)
kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab).”
Meski tahun baru Islam sudah lewat, tidak ada
salahnya momen pergantian tahun ini kita lakukan evaluasi diri (muhasabah).
Muhasabah atau evaluasi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw sebagai
kunci pertama dari kesuksesan. Karena orang yang sukses akan selalu mengevaluasi
dari apa yang telah dilakukannya. Selain itu, Rasulullah saw juga menjelaskan
kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya
setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan.
Sementara kebalikan dari kesuksean, yakni
kegagalan. Rasulullah saw menyebutkan dengan dua ciri mendasar Muslim yang
gagal, yakni: Pertama, adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya.
Membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing (rencana),
tidak ada action (aksi/kerja) dari rencananya, terlebih-lebih
memuhasabahi perjalanan hidupnya. Dan orang yang seperti ini sudah akan terukur
kegagalannya.
Kedua, adalah memiliki banyak
angan-angan dan khayalan, “Berangan-angan terhadap Allah.” Maksud
berangan-angan terhadap Allah SWT adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam
Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: “Dia (orang yang
lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti
hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu
berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”
Urgensi Muhasabah
Imam Turmudzi meriwayatkan ungkapan Umar bin
Khaththab ra dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari
muhasabah.
Pertama, Umar ra mengemukakan: “Hisablah (evaluasilah)
diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk
hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan
pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.”
Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi
dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan
bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul
akhir kelak. Umar faham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun
memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari
Allah SWT.
Kedua, Maimun bin Mihran ra mengatakan: “Seorang
hamba tidak diakatan bertaqwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana
dihisabnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya.” Maimun bin
Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117
H. Beliau pun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan
muhasabah dengan ketaqwaan. Seseorang tidak dikatakan bertaqwa, hingga menghisab
(mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang
yang bertaqwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang
yang bertaqwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.
Ketiga, urgensi lain dari muhasabah
adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah
SWT dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal
perbuatannya. Allah SWT menjelaskan dalam al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka
akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS
Maryam [19]: 95). Setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban
atas segala amal perbuatan yang telah dilakukannya secara sendiri-sendiri. Dan
seringkali manusia melupakan hal ini, sementara semakin hari semakin dekat
antara dirinya dengan hisab tersebut. Allah SWT berfirman: “Telah dekat
kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam
kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS al-Anbiya’ [21]: 1)
Membuat Resolusi di Tahun 2017
Seorang Muslim tidak seharusnya hanya berwawasan
sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat.
Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi & planing untuk
kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang yang sukses adalah orang yang
mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang
bertaqwa adalah orang yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi
tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’
Ada beberapa aspek terkait resolusi Muslim di tahun
2017 agar kelak kita menjadi orang yang pandai, sukses, dan bertaqwa.
Pertama, kita perlu membuat resolusi
terkait ibadah kita. Pertama kali sebagai Muslim yang harus kita lakukan adalah
meningkatkan ibadah kita, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Karena ibadah
merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini: “Dan
tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah
kepada-Ku.” (QS al-Zariyât [51]: 56).
Kedua, sebagai Muslim kita perlu membuat
resolusi terkait pekerjaan dan perolehan rizqi. Aspek kedua ini sering kali
dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan
kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi
yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah
hadits, Rasulullah saw bersabda: Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw
bahwa beliau bersabda, “Tidak akan bergerak tapak kaki Ibnu Adam pada hari
kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya,
masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya &
kemana dibelanjakannya & ilmunya sejauh mana pengamalannya?” (HR
Turmudzi)
.
Ketiga, kita perlu membuat resolusi
terkait kehidupan sosial keislaman kita. Aspek kehidupan sosial ini merupakan
hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya
kehidupan sosial keislaman kita juga sangat penting. Sebagaimana yang
digambarkan Rasulullah saw dalam haditsnya: “Orang yang bangkrut dari
umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa
dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan
harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang
tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala
kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa
mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api
neraka.” (HR Muslim)
Menerima TRAINING
HYPNO UPGRADING - SPIRITUAL untuk organisasi anda (
pendidikan/non pendidikan dan perusahaan)
Mengembalikan Fitrah manusia yang BERTUHAN, BEKEJA KERAS, JUJUR, dan IKHLAS
kontak person :
ERYANTO WhatsApps/SMS :( 0813-2778-0051)
e-mail : hypno.upgrading@gmail.com







